Sinopsis:
Kakek Cebol ini bukan main-main menghina Bouw Lek Couwsu dan anak buahnya, dia minta mereka angguk-anggukan kepala bak anjing
Bouw Lek Couwsu benar-benar menarik napas dalam dan ia kaget bukan main. Memang terasa gatal-gatal dan sakit.
Mentaati permintaannya, berarti dia sudah kena dipermainkan juga, maka Suling Emas lalu mengambil kotoran tanah yang menempel disepatunya
Bu tek Lojin kaget bukan main,teba-tebakn Tang Hauw Lam hanyalah siasat belaka, tak ada yang bakal mampu menjawab
"Ha-ha-ha-ha, persis pantat monyet, ha-ha-ha," Bu-tek Lo-jin tertawa terbahak-bahak. Bouw Lek Couwsu marah bukan main.
Sambil tersenyum Suling Emas mempertahankan suling dengan tangan kanan, adapun tangan kirinya bergerak cepat.
Suling Emas kini tak sendiri, si kakek cebol yang sakti ikutan membantunya, juga ratusan pasukan Khitan
Pertandingan terjadi makin seru dan cepat. Gerakan Suling Emas indah sekali, indah dan cepat namun karena empat orang pengeroyoknya
Suling Emas datang di saat genting, para pemberontak pun sadar, gerakan mereka sudah gagal total. Tapi kenapa mencari Mutiara Hitam?
Kwi Lan roboh tertotok dan tak mampu bergerak lagi! Hauw Lam menjadi kecewa sekali dan pemuda ini hanya mampu memaki-maki dan berteriak
ia harus menghadapi Bouw Lek Couwsu atau bahkan Thai-lek Kauw-ong satu lawan satu saja agaknya Kam Sian Eng tidak akan mudah dapat dikalah
Semua orang menahan napas. Betapa cantiknya wajah di balik kerudung itu! Kulitnya putih kemerahan seperti kulit muka gadis remaja.
Tak seorang pun tahu kecuali Hauw Lam dan Kiang Liong betapa wajah di balik kerudung hitam itu mengeluarkan napas yang membuat kerudung
Masa seorang tua bangka yang mengaku jago, kini menghadapi seorang gadis remaja seperti Mutiara Hitam saja takut-takut dan begini pengecut
Sepasang sinar mata menyorot dari balik kerudung hitam dan Hauw Lam bergidik. Jangan ganggu aku, tolol!" hardik Kam Sian Eng.