Sinopsis:
"Binatang....!" Tubuh Pangeran Talibu yang tadinya sudah menggeletak kehabisan tenaga dan amat menderita rasa panas perih dan nyeri.
"Breeetttt....!" Sekali renggut robeklah baju Kwi Lan, tidak hanya baju luar yang robek sama sekali, bahkan sebagian baju dalamnya
Gadis ini pun sama sekali tidak membayangkan takut pada pandang matanya yang melotot ke arah Bouw Lek Couwsu penuh kemarahan.
Pangeran Talibu yang sudah putus asa karena ngeri memikirkan kalau sampai terjadi pelanggaran susila dengan adik kembarnya sendiri.
Pangeran Talibu menarik napas panjang. Alangkah akan bahagianya kalau Kwi Lan bukan adiknya. Mempunyai kekasih seperti gadis ini!
Suasana dalam kamar menjadi romantis, dan indah seperti suasana kamar pengantin! "Pangeran, apakah yang kaupikirkan?"
"Kwi Lan.... Mutiara Hitam ah, kita mabok. Tidak wajar ini! Kita keracunan.... begini panas dan begini.... merangsang...." Kwi Lan tersentak
Kemudian ia menuding ke jendela sambil menyentuh telinga sendiri. Pangeran Talibu mengangguk, maklum bahwa di luar jendela ada orang
“Nona...., siapakah engkau....? Siapakah namamu....?” Belum pernah selama hidupnya Kwi Lan menikmati perasaan seperti saat ini.
Bouw Lek Couwsu secara licik beri Kwi Lan dan Talibu obat perangsang, tujuannya agar keduanya lupa diri
Wajah Pangeran ini telah menggetarkan perasaannya, membuat darahnya berdenyut lebih cepat daripada biasa.
Kalau Kwi Lan dan Talibu mendengar apa yang mereka rencanakan tentu hati kedua orang muda ini menjadi cemas sekali.
Melihat Mutiara Hitam yang selain muda remaja dan cantik jelita.Juga lihai ilmu silatnya, ia sudah mengeluarkan air liur.
Kwi Lan tak punya pilihan lain lagi, dia terpaksa menyerah dan di tawan bersama Pangeran Talibu, tanpa tahu mereka bersaudara
Pada saat jari tangan kurang ajar itu menyentuh dada, kaki Kwi Lan bergerak dengan kecepatan yang sukar diduga.