Pemilu dan Pilpres Tahun 2024 diprediksi makin panas, Parpol-parpol terus bermanuver, terlebih Jokowi sudah tak mencalonkan diri lagi
Sejak 2008 hingga sekarang, posisinya sebagai Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan pamannya Gus Dur tak tergoyahkan
Haro mengatakan putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Yenny Wahid memiliki alasan tak akan mendukung Prabowo-Cak Imin.
Blunder fatal kembali dilakukan kader-kader PDIP, setelah Ketumnya terlalu jumawa dan bilang banyak yang ingin gabung, bergema tenggelamkan
Prabowo kini pusing tentukan siapa Bacawapres, masuknya PAN dan Golkar di tambah kelak kalau MK kabulkan soal umur Capres dan Bacawapres
Kini, Prabowo dan Partai Gerindra bisa tidur nyenyak, karena dukungan Golkar dan PAN sudah lebih dari cukup. PKB nggak bisa ngelunjak lagi
PAN dan Golkar ini seolah menampar wajah PPP, kedua rekan koalisi mereka di KIB sudah deklarasikan dukung Capres dari Partai Gerindra
Diduga, bergabungnya PAN dan Golkar tak lain karena intervens Jokowi, yang dikatakan sampai kini masih ‘jengkel’ dengan kesombongaan PDIP?
Tapi ingat faktor X, yakni kecurangan! Saya masih ingat Tahun 2019 kegagalan saya melenggang ke DPRD Tabalong ke 3X nya, karena faktor itu"
Cak Imin: Mereka yang bermodal Rp20 miliar hingga Rp25 miliar tidak pernah bisa melaju ke Senayan. Hanya yang bermodal Rp40 miliar
AHY makin intesn jalin komunikasi dengan Puan Maharani sang perwakilan PDIP yang ditugaskan Megawati jalin komunikasi dengan beberapa parpol
Selain PKB, Gerindra belum dapat parpol parlemen yang sahih dukung Prabowo untuk berlaga di Pilpres 2024 nanti.
Partai Golkar dan PAN, konon kabarnya, diminta Jokowi sokong Prabowo Subianto, antisipasi kalau PKB hengkang ke PDIP
"Koalisi lain mungkin punya strategi cawapres last minute. Koalisi perubahan tidak harus demikian. Bisa keliru jika dua menit terakhir"
PKS mulai ketar ketir, Partai Demokrat akan hengkang dari Koalisi, kalau hengkang maka wasallam, AB gagal nyapres
Ketum Partai Nasdem, Surya Paloh ngaku sudah paham, kenapa Airlangga Hartarto tak bisa dukung AB bersama Nasdem, PD dan PKS